Share |

Tips Bengkel Motor: Pilih Bengkel Resmi atau Non-Resmi?

Add comments

Maraknya perkembangan sepeda motor di tanah air, memberikan angin segar bagi pertumbuhan usaha atau bisnis perbengkelan, serta berjualan asesories motor. Khususnya untuk bengkel motor, kini pihak konsumen sering dihadapkan pada banyak pilihan, apakah servis motor seharusnya masuk ke bengkel resmi ATPM, atau masuk ke bengkel non-resmi?

Harus diakui bahwa bisnis bengkel kini sangat menggiurkan, bahkan sangat menjajikan, dan tidak akan mengenal surut. Lihat saja disekitar kita, selain banyaknya bengkel resmi dari pihak ATPM, juga dibarengi dengan pertumbuhan bengkel-bengkel di pinggir jalan mulai dari kios biasa, hingga ruko (rumah toko) yang mewah. Semua ini terjadi akibat populasi kendaraan bermotor roda dua yang kini jumlahnya sudah mencapai angka jutaan.

Angka jutaan dari populasi kendaraan sepeda motor ini, paling tidak membutuhkan perawatan atau servis rutin agar motor tetap prima. Hanya saja, disini kita sebagai konsumen perlu waspada, karena tidak semua bengkel dapat memberikan servis yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan kita. Malah sering ditemukan ada banyak bengkel yang tidak perlu ngantri panjang, tapi kerjanya asal-asalan. Sebaliknya, ada juga bengkel yang sangat ramai, antrinya luar biasa, tapi mendapatkan hasil yang memuaskan.

Yuk.. kita bahas dulu perbedaan antara bengkel resmi dengan bengkel tidak resmi.

Bengkel Resmi

Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) merek Honda dan Yamaha sampai saat ini masih mendominasi usaha bengkel resmi yang sangat mudah ditemui hampir diseluruh lokasi/daerah. Namun demikian, tak ketinggalan merek lain seperti Suzuki, Kawasaki, Bajaj, TVS, Piaggio ikut pula meramaikan usaha perbengkelan. Hanya sayang, bengkel resmi Kymco belakangan ini sudah tak ada kabarnya lagi.

Sebagai contoh, Honda pada saat ini memiliki bengkel resmi yang disebut dengan “Astra Honda Authorized Service Station (AHASS)“.

Tujuan dari pada pelayanan bengkel resmi AHASS ini, diharapkan agar para pemilik motor Honda dijamin akan mendapat pelayanan yang terbaik sesuai dengan standar dari pabrikan Honda melalui PT ASTRA HONDA MOTOR (AHM).

Selain itu, bengkel AHASS beserta dengan jaringan-nya yanga ada diseluruh Indonesia yang kini sudah berjumlah lebih dari 2000, juga akan bertugas memberikan memberikan layanan after sales service (purna jual).

Sebenarnya AHASS merupakan usaha skala kecil dan menengah (USKM), dan seiap orang bisa saja membuka bengkel resmi Honda. Bahkan klub dan komunitas motor semacam HTML (Honda Tiger Mailing List) sudah memiliki usaha bengkel AHASS dibawah bendera Koperasi HTML.  Persyaratan yang harus dipenuhi sebelum ditunjuk sebagai bengkel resmi, paling tidak bengkel sudah disurvey dan memiliki lokasi dengan luas minimal 6×15 meter. Lokasi  sesuai dengan mapping yang ada dan mengikuti aturan main yang ditetapkan oleh pabrikan AHM, dan/atau melalui jaringan distributor wilayah.

Jjika sudah jadi bengkel resmi AHASS, tidak boleh lagi melayani motor merek lain. Karena ini menyangkut kesepakatan dan kerjasama, serta komitment yang sudah ditandatangani secara bersama dalam kontrak. Harapannya pelayanan bengkel untuk setiap konsumen akan semakin baik dan lebih fokus. Syarat lainnya, harus punya izin usaha, SIUPP, NPWP, Tanda Daftar Perusahaan.

Kebutuhan mekanik minimal harus 3 orang dan 1 front desk, disertai dengan alat bike lift (pit) untuk tempat kerja minimal 2 buah. Menurut ketentuan Honda, untuk memenuhi standar pelayanan yang telah ditetapkan di seluruh jaringan AHASS, minimal harus memiliki standar fasilitas fisik yang sama, yaitu Front Desk, Bike Lift, Piping System, Exhaust System dan Oil Drain.

Standarisasi Yang Sama

Jika anda tertarik mau membuka usaha bengkel resmi seperti ini, selain mengikuti keterangan di atas, maka anda juga diminta untuk menyelesaikan masalah administrasi, antara lain masalah legalitas, masalah persetujuan dari pihak PT. AHM.

Sedangkan dana yang harus disiapkan oleh pemilik bengkel minimal Rp 50 juta. Jika pemilik bengkel meminta stok suku cadang (spare-parts), maka pemilik harus menyiapkan tambahan dana 50 juta lagi, sehingga total dana menjadi Rp 100 juta. Hitungan modal usaha untuk membuat bengkel resmi jelas sekali butuh biaya yang cukup besar, dan ini tak dapat dipenuhi oleh semua orang yang punya bakat sebagai mekanik.

Bicara perihal prosedur dalam teknis dan pelayanan, maka sebelumnya para petugas bengkel akan diberikan pelatihan dasar selama seminggu untuk memiliki standarisasi kerja pada 20 titik servis. Salah satunya, minimal mekanik bisa melakukan tune up motor. Juga ada pelatihan tingkat lanjut yang lebih bersifat analisis, sekitar 14 hari. Mekanik akan diberikan teknik bongkar pasar dan menalisis kerusakan dan perbaikan. Sedang pelatihan berikutnya adalah lebih ke arah manajemen selama 14 hari juga. Di sini para mekanik akan dilatih bagaimana mengelola bengkel secara benar dengan sistem yang baik.

Untuk memperkokoh pelatihan-pelatihan di atas, pihak PT AHM juga akan memberikan pelatihan administrasi secara terpisah. Di sini dilatih bagaimana membuat laporan harian, bulanan, dan perintah kerja. Dan yang terpenting adalah mereka harus menguasai WPP (Workshop Performance Parameter) yang lebih kepada penguasaan bagaimana seharusnya performa bengkel dengan segala atributnya.

Bagaimana dengan bengkel ATPM Yamaha? Menurut pendapat SL.com kurang lebih secara prosedur persyatannya hampir sama dengan contoh dari bengkel resmi Honda atau AHASS di-atas.

Sebagai perusahaan besar, sudah tentu Yamaha melalui YSS (Yamaha Service Shop) juga memiliki dan mengikuti pola pelayanan yang standar (seragam) yang berlaku untuk semua.

Hal ini diberlakukan sama kepada seluruh bengkel resmi YSS yang memilliki jumlah lebih dari 1,500 diseluruh Indonesia. Bagi mereka yang ingin membuka bengkel YSS, secara prosedural hampir sama dengan ketentuan yang diberlakukan oleh PT AHM. Singkat kata, bisa dibilang ini serupa tapi tak sama.

Bengkel Non-Resmi

Dalam hal ini sudah jelas sangat berbeda dengan contoh-contoh bengkel resmi ATPM dari Honda atau Yamaha. Tak usah dijelaskan lagi secara detail. Singkat cerita, jika SL.com punya niat buka bengkel (sebagai contoh), bisa saja mulai dari rumah sendiri, dan ini sudah bisa dibilang punya bengkel sendiri. Tak ada prosedur baku seperti membuat bengkel resmi seperti mengikuti aturan bengkel ATPM diatas. Kalau punya modal besar, silahkan sewa ruko, atau garasi besar. Tak ada yang mengatur, kecuali jika usaha bengkel-nya menjadi sebuah PT (perseroan terbatas), maka harus mengkuti aturan perusahaan.

Perbandingan

Jika kita mau membandingkan, antara bengkel resmi dengan bengkel non-resmi, sebenarnya keduanya memang sangat berbeda tapi sama-sama diperlukan. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan yang unik.

Sebagai contoh, bengkel resmi lebih cenderung bekerja untuk motor baru atau motor masih dalam kondisi standard. Jika motor sudah mengalami modifikasi, sepertinya bengkel resmi dari ATPM kurang sreg. Hal ini dapat dipahami karena pelayanan bengkel resmi lebih prioritas untuk motor jenis standard. Alhasil, jika motor sudah mengalami modifikasi, maka servisnya atau reparasi lebih cocok masuk ke bengkel yang non-resmi.

Selain itu, bengkel resmi memang selalu menyediakan genuine spare-parts (suku cadang asli), sedangkan bengkel non-resmi punya harga yang murah, karena mereka menyediakan suku cadang kualitas rendah, bahkan sering ditemukan barang atau parts palsu.

Masuk ke bengkel resmi jelas memiliki peralatan mekanik (tools mechanic ) yang sudah lengkap, tapi kalau masuk ke bengkel yang non-resmi biasanya mereka hanya memiliki peralatan seadanya saja. Tak jarang motor harus diketok-ketok sampai jebol, padahal kalau masuk ke bengkel resmi masih bisa menggunakan alat-alat bengkel atau tools mechanic yang berkualitas.

Bengkel PMS: serupa dengan AHASS tapi tak sama

Masih banyak lagi suka duka soal pelyananan dari kedua bengkel ini. Yang pasti keduanya tetap sangat dibutuhkan, bengkel resmi memang cocok untuk motor baru, sedangkan bengkel non-resmi memang lebih pas untuk motor-motor yang sudah di modifikasi.

Nah, paling enak adalah bagaimana mendapatkan bengkel yang flexible, maksudnya status bengkel adalah non-resmi yang punya konsep dan pelayanan yang serupa dengan sebuah bengkel resmi, tapi ia bekerja secara bebas mengikuti semau-nya konsumen. Artinya, ia sebagai bengkel semi resmi, dimana pekerjaan modifikasi pun juga bisa dilayani. Tak itu saja, bengkel ini juga menjual perlengkapan asesories motor yang lagi nge-trend.

Sebagai contoh, hal ini dapat ditemukan pada bengkel PMS (Ponorogo Motor Sport) milik Mas Parno. Konsepnya mirip sekali dengan bengkel resmi AHASS, kebetulan ia adalah mantan kepala mekanik AHASS Pondok Labu, Jakarta Selatan. Semua ilmu yang ia dapat dari AHASS ditiru dan diterapkan pada bengkel pribadinya. Alhasil konsumen pun puas, karena bengkel PMS ini setidaknya bisa melayani semua kebutuhan konsumen. Serupa dengan standard pelayanan AHASS, tapi tak sama.

Bagaimana dengan pengalaman anda sendiri bro? Lebih suka ke mana? Bengkel resmi atau bengkel non-resmi?

(Artikel diolah dari berbagai sumber)

Bengkel resmi Yamaha CITRA MOTOR di Jl. Bungur Besar, Jakarta Pusat
Bengkel Umum Motor, PMS Ponorogo Motor Sport di Cileduk, Jakarta Selatan

Sumber : stephenlangitan.com



MOTOR, TIPS N TRICK October 11th 2010

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.